Beranda PEOPLE Inspirasi Keluar dari Zona Nyaman, Wandi Memilih Buka Usaha Kuliner

Keluar dari Zona Nyaman, Wandi Memilih Buka Usaha Kuliner

621
0
BERBAGI

JAKARTA, KULINERMAGAZINE – Bagi sebagian orang, keluar dari zona nyaman untuk mencari tantangan baru menjadi hal yang cukup sulit dilakukan. Tapi tidak bagi Wandi, pria asal Lamongan ini lebih memilih meninggalkan pekerjaannya dan memulai wirausaha kecil-kecilan.

Sebelumnya, Wandi bekerja di sebuah rumah produksi ternama yang saat itu tengah naik daun. Tuntutan pekerjaan yang menyita banyak waktu membuat Wandi jarang berada di rumah. Alhasil, Dia pun kehilangan momen-momen berharga bersama keluarga tercinta. Dari situlah Wandi mulai berpikir untuk berhenti bekerja dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Awal mulanya saat saya diprotes oleh anak karena jarang bertemu. Saat itu saya memang sedang sibuknya mengerjakan sinetron Cinta Fitri garapan MD Entertainment sekitar tahun 2010,” tutur Wandi kepada Kulinermagazine.

Selanjutnya Wandi mulai memutar otak. Saat curhat kepada seorang teman yang sudah lebih dulu berbisnis, Wandi disarankan untuk membuka usaha dengan menjual minuman ‘bubble drink’.

“Saat pertama kali jualan, saya sempat khawatir juga. Karena jualan dari pagi sampai malam tapi hasilnya tidak mencapai target. Tapi saya tidak menyerah,” kisah Wandi.

Wandi saat masih bekerja di sebuah Rumah Produksi (Production house).

Wandi juga sempat diprotes oleh istrinya lantaran meninggalkan pekerjaan dan lebih memilih berwiraswasta.

“Sebagai orang awam dalam berbisnis tentu saja ada kekhawatiran. Tapi saya berhasil meyakinkan istri saya,” ucap pria yang pernah bersekolah di STM Cendrawasih, Jakarta Barat ini.

Tekad Wandi yang sudah bulat tidak menyurutkan niatnya untuk terus berusaha. Dari hari ke hari, kerja keras Wandi mulai terlihat. Omset penjualannya terus meningkat. Langganannya pun semakin banyak.

Dengan penghasilan dan modal yang cukup, akhirnya Wandi memutuskan untuk membuka sebuah warung kuliner yang menyediakan beragam menu makanan. Warung tersebut diberi nama “Dapoer Alisha”.

Dapoer Alisha yang berlokasi di Jl. Ciledug Raya No. 7 Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan

Lokasinya yang berada dekat kampus membuat Dapoer Alisha selalu ramai didatangi pengunjung. Sebab harga makanannya cukup terjangkau dengan kantong mahasiswa atau menengah ke bawah.

“Saya belajar berbisnis kecil-kecilan dengan cara otodidak. Sebuah usaha seharusnya dilakukan survey terlebih dahulu, dan ada sasaran yang dituju. Nah, di tempat saya buka usaha ada kampus dan sekolah. Jadi saya lebih berani membuka usaha ini,” katanya.

Wandi tidak menyesal telah meninggalkan pekerjaannya karena saat ini dirinya semakin yakin jika bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

“Alhamdulillah, penghasilan saat ini sudah melampaui dari apa yang saya pernah peroleh saat masih bekerja sebagai karyawan dulu. Dan itu membuat saya semakin semangat menjalankan usaha kuliner ini,” tutupnya.

Dapoer Alisha

Warung kuliner milik Wandi ini berada di Jl. Ciledug Raya No. 7 Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Para mahasiswa Universitas Budi Luhur tentu sudah tak asing dengan warung makan yang satu ini.

Kwetiau juga menjadi menu favorit Dapoer Alisha.

Warung makan ini menyediakan bermacam-macam menu mulai dari Soto ayam Lamongan, ayam bakar, ayam penyet, pecel lele, nasi goreng, hingga kwe tiau pun ada.

Untuk urusan cemilan, Wandi juga membuka booth yang menjual cilok raos, pisang coklat (piscok), sosis mayo, tuna mayo dan macharoni bolognaise.

Cilok ‘made in Wandi’ ini memiliki varian dan konsep berbeda dari cilok lainnya, yakni diisi daging dan telur puyuh dengan bumbu sehingga menghasilkan rasa yang lebih lezat. (hel)

Cilok Raos dengan beragam varian kelezatan, dengan bumbu dan citarasa yang berani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here