Beranda Liputan Khusus Filosofi ketupat dan opor di saat hari lebaran

Filosofi ketupat dan opor di saat hari lebaran

742
0
BERBAGI

JAKARTA-KULINERMAGAZINE-Menyajikan hidangan ketupat dan opor disaat hari lebaran sudah menjadi  tradisi bagi masyarakat kebanyakan, kedua menu ini sudah menjadi pasangan yang sangat cocok dan tak akan terpisahkan. Selain rasanya yang memang saling melengkapi,ternyata kedua menu ini mempunyai arti dan filosofi masing-masing.sesuai makna yang berkaitan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Mengutip dari berbagai sumber kali ini Kulinermagazine coba membahasnya.Ketupat yang mempunyai bentuk segi empat di lambangkan sebagai  perwujudan kiblat papat limo pancer yang mengandung arti  keseimbangan alam dalam empat arah mata angin,meskipun memiliki empat arah namun hanya ada satu kiblat atau pusat.

Arti lain bisa juga menggambarkan  bahwa manusia boleh saja bepergian kemana saja,namun akan kembali ke satu pusat yaitu Allah SWT. Isi dari ketupat yang berupa beras dianggap  sebagai sebuah lambang kemakmuran ,namun ada juga yang mengartikan bahwa beras putih melambangkan kesucian hati.

Pemberiaan nama ketupat juga mengandung arti yang sejalan dengan  Idul Fitri,Ketupat yang pertama kali diperkenalkan oleh salah satu Walisongo yaitu Sunan Bonang pada abad 15. Dalam bahasa Jawa di kenal dengan nama Kupat disingkat dari kata ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Pemberian ketupat sama dengan mengakui kesalahan dan permohonan maaf.

Sedangkan pasangannya yaitu opor ayam juga mempunyai  sarat makna tentang lebaran, opor ayam yang berbahan dasar santan didalamnya dianggap sebagai sebuah permintaan maaf, santan dianggap punya makna pangapunten atau meminta maaf

Jadi kombinasi antara ketupat dan opor ayam ini diyakini menjadi sebuah lambang permintaan maaf yang tulus serta keinginan untuk memperbaiki diri kita agar menjadi  lebih baik lagi. (hel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here